Status Beta

Zed Editor untuk Linux saat ini sudah masuk fase Public Beta . Fitur dasar sudah stabil, tapi beberapa extension mungkin belum selengkap di macOS. Saya mencobanya di Ubuntu 24.04 LTS.

Sebenarnya saya tidak ada niat ganti dari VS Code. Editor buatan Microsoft itu sudah jadi standar de facto bertahun-tahun. Tapi makin ke sini, rasanya makin berat. Apalagi kalau sudah pasang banyak ekstensi dan buka project monorepo besar.

Minggu lalu saya akhirnya mencoba Zed Editor. Klaimnya berani: High-performance multiplayer code editor yang dibangun dari nol menggunakan Rust.

Apakah klaim “cepat” itu nyata? Atau cuma gimmick marketing? Setelah seminggu penuh coding pakai Zed di Linux, ini laporannya.

Kenapa Melirik Zed?

Ada tiga alasan utama kenapa banyak developer Linux mulai penasaran sama editor ini:

  1. Performance First: Dibuat pakai Rust dan punya GPU-accelerated UI (GPUI). Jadi rendering teksnya pakai GPU, bukan CPU.
  2. Clean & Minimal: Tidak banyak tombol/menu yang menuh-menuhin layar. Fokus ke kode.
  3. Ex-Atom Creators: Dibuat oleh tim yang dulu bikin Atom editor (sebelum dimatikan GitHub).

Benchmark: VS Code vs Zed

Saya coba bandingkan langsung di laptop kerja saya (ThinkPad X1 Carbon, i7, 16GB RAM). Kondisi sama-sama buka project React yang lumayan besar (150+ components).

Metrik VS Code (Electron) Zed (Rust)
Startup Time 2.5 detik ~0.4 detik
Idle RAM 450 MB 120 MB
Heavy Load RAM 1.2 GB 350 MB
Keystroke Latency 25ms 10ms
Binary Size 380 MB 85 MB

Secara angka, Zed menang telak. Terasa banget waktu cold start. Klik ikon Zed, blink, langsung kebuka. VS Code masih butuh waktu buat loading extensions.

Benchmark RAM Usage Comparison
Perbandingan penggunaan RAM saat membuka project yang sama.

Tapi angka bukan segalanya. Fiturnya gimana?


Cara Install Zed di Linux

Zed resmi mendukung Linux sejak pertengahan 2024. Cara paling gampang dan aman adalah lewat script installer resmi mereka.

Download & Install

Buka terminal dan jalankan perintah curl berikut. Ini akan mendownload binary terbaru dan menaruhnya di path yang benar.

Terminal
curl -f https://zed.dev/install.sh | sh

Tambahkan ke Path

Biasanya installer akan otomatis menambahkan ke ~/.local/bin. Pastikan folder ini ada di PATH shell Anda (Fish/Bash/Zsh).

~/.bashrc
bash
export PATH=$HOME/.local/bin:$PATH

Coba Jalankan

Ketik zed . di terminal untuk membuka folder project saat ini.

Zed Editor Interface First Launch
Tampilan awal Zed. Bersih banget, mirip Sublime Text zaman dulu tapi modern.

Konfigurasi Agar “Rasa” VS Code

Pindah editor itu berat di muscle memory. Shortcut beda sedikit saja bisa bikin emosi. Untungnya Zed punya fitur keymap yang fleksibel.

Berikut setup wajib saya biar transisi mulus:

1. Keybinding

Zed punya preset VS Code. Aktifkan ini dulu biar Ctrl+P, Ctrl+Shift+F jalan seperti biasa.

Buka Settings (Ctrl+,) lalu cari bagian Keybinding. Atau edit JSON-nya langsung:

~/.config/zed/settings.json
json
{
  "base_keymap": "VSCode",
  "theme": "One Dark",
  "ui_font_size": 16,
  "buffer_font_size": 15,
  "autosave": "on_focus_change",
  "tab_size": 2,
  "terminal": {
    "font_family": "JetBrains Mono",
    "font_size": 14
  }
}

2. Install Bahasa (Language Server)

Zed tidak mem-bundle semua bahasa di awal biar ringan. Saat pertama kali buka file Python atau TypeScript, dia akan tanya: “Mau download Language Server-nya?”. Klik Yes.

Prosesnya otomatis. Dia akan download rust-analyzer, pyright, atau tsserver di background.


Kekurangan Saat Ini

Tentu tidak ada software yang sempurna, apalagi statusnya masih Beta. Ini beberapa hal yang mungkin bikin kamu mikir dua kali:

Kelebihan
  • Super Cepat. Tidak ada lag saat ngetik.
  • Hemat Baterai. Di laptop terasa banget bedanya dibanding Electron app.
  • AI Terintegrasi. Bisa connect ke GitHub Copilot atau Claude langsung.
  • Terminal bawaan yang responsif (Alacritty based).
Kekurangan
  • Ekosistem Extension masih “bayi”. Belum ada extension super niche.
  • Git GUI masih basic banget. Belum ada fitur sekuat GitLens.
  • Debugging tools belum sematang VS Code.

Kesimpulan: Migrasi Sekarang?

Kalau kamu Front-end Developer (React/Vue/Svelte) atau Rust Developer, Zed sudah sangat usable. Pengalaman coding-nya jauh lebih menyenangkan karena responsivitasnya.

Tapi kalau kamu butuh fitur advance seperti Remote SSH, Dev Containers, atau extension spesifik yang cuma ada di VS Code, mungkin jadikan Zed sebagai secondary editor dulu.

Untuk saya pribadi? Zed sekarang jadi editor utama untuk writing code, dan VS Code cuma dibuka kalau butuh debugging kompleks.

Coba Zed Editor

Download gratis dan rasakan sendiri bedanya editor native vs web-based.